Senin, 02 Januari 2012

Pengertian Thariqah

Thariqah berasal daripada perkataan Arab yang artinya adalah jalan / cara / metode yang di tempuh oleh seseorang dalam menjalankan syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah AWT. Yang dimaksudkan di sini ialah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dari sudut istilah ia merujuk kepada aliran-aliran yang wujud dalam amalan tasawuf atau amalan penyucian hati dan jiwa yang selalunya difokuskan kepada pengamalan zikir-zikir tertentu yang disusun dan dihimpunkan oleh tokoh-tokoh ulama tertentu.

Dalam buku Agenda Muktamar IX Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-nahdliyah disebutkan bahawa Thariqah ialah ilmu untuk mengetahui hal ihwalnya nafsu dan sifat-sifatnya.Mana yang tercela kemudian dijauhi dan ditinggalkan dan mana yang terpuji kemudian diamalkan.Sedang dalam Kitab Jami'ul Ushul fil Aulia, menurut Syaikh Ahmad Kamiskhonawi An-Naqsyabandi disebutkan : "At-Thariqah hia as-sirah al-mukhtashash bis-saliki ilallahi min qoth'il manazil wat-taroqqi fil maqomat "(Thariqah adalah laku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa menapaki (manzilah) jalan setapak demi setapak dan naik ke maqam-maqam / tempat mulia )

Adalah thariqat itu suatu sikap hidup Orang yang teguh pada pegangan yang genap Ia waspada dalam ibadah yang mantap Bersikap wara' berperilaku dan sikap Dengan riyadhah itulah jalan yang tetap.
Para Ulama berpendapat thariqat adalah jalan yang ditempuh dan sangat waspada dan berhati-hati ketika beramal ibadah. Seseorang tidak begitu saja melakukan rukhshah (ibadah yang meringankan) dalam menjalankan macam-macam ibadah. Walaupun ada kebolehan melakukan rukhshah, akan tetapi sangat berhati-hati melaksanakan amal ibadah. Diantara sikap hati-hati itu adalah bersifat wara'.
Menurut al-Qusyairy, wara' artinya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang diragukan halal haramnya). Bersikap wara' adalah suatu pilihan bagi ahli thariqat.
Imam al-Ghazaly membagi sifat wara' dalam empat tingkatan. Tingkat yang terendah adalah wara'ul 'adl (wara' orang yang adil) yakni meninggalkan suatu perbuatan sesuai dengan ajaran fiqh, seperti makan riba atau perjanjian-perjanjian yang meragukan dan amal yang dianggap bertentangan atau batal.
Tingkat agak ke atas adalah wara'ush shâlihîn (wara' orang-orang saleh). Yakni menjauhkan diri dari semua perkara subhat, seperti makanan yang tidak jelas asal usulnya, atau ragu atas suatu yang ada di tangan atau sedang dikerjakan, atau disimpan.
Tingkat yang atasnya lagi, adalah wara'ul muttaqqîn (wara' orang-orang yang takwa). Yakni meninggalkan perbuatan yang sebenarnya dibolehkan (mubah), karena kuatir kalau-kalau membahayakan, atau mengganggu keimanan, seperti bergaul dengan orang-orang yang membahayakan, orang-orang yang suka bermaksiat, memakai pakaian yang serupa dengan orang- orang yang berakhlak jelek, menyimpan barang-barang berbahaya atau diragukan kebaikannya. Contoh, sahabat Umar bin Khattab meninggalkan 9/10 (sembilan per sepuluh) dari hartanya yang halal karena kuatir berasal dari perilaku haram.
Tingkat yang tertinggi adalah, wara'ush shiddiqqîn (wara' orang-orang yang jujur). Yakni menghindari sesuatu walaupun tidak ada bahaya sedikitpun, umpamanya hal-hal yang mubah yang terasa syubhat.
Kisah-kisah berikut ini menunjukkan sifat-sifat orang yang wara'.
Pada masa Imam Ahmad bin Hambal, hiduplah seorang sufi bernama Bisyir al-Hafy. Ia mempunyai saudara perempuan yang bekerja memintal benang tenun. Biasanya pekerjaan itu dikerjakan di loteng rumahnya. Ia bertanya kepada Imam Ahmad, "Pada suatu malam ketika ia sedang memintal benang, cahaya obor lampu orang Thahiriyah (mungkin tetangga) masuk memancar ke loteng kami. Apakah kami boleh memanfaatkan cahaya lampu obor tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan kami?" Imam Ahmad menjawab "Sungguh dari dalam rumahmu telah ada cahaya orang yang sangat wara', maka janganlah engkau memintal benang dengan memanfaatkan cahaya obor itu".
Abu Hurairah mengatakan: "Pada suatu hari seorang saudaraku datang mengunjungiku. Untuk menyajikan makanan buat menghormatinya, saya belikan lauk seekor ikan panggang. Setelah selesai menyantap makanan itu, saya ingin membersihkan tangannya dari bau ikan bakar itu. Dari dinding rumah tetangga, saya mengambil debu bersih untuk membersihkan dan menghilangkan bau amis dari tangannya. Akan tetapi saya belum minta izin tetangga tersebut untuk menghalalkan perbuatan saya itu. Saya menyesali atas perbuatan saya itu empat puluh tahun lamanya".
Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki mengontrak sebuah rumah. Ia ingin menghiasi ruangan rumah itu, lalu menuliskan khat-khat riq'i pada salah satu dindingnya. Ia berusaha menghilangkan debu-debu pada dinding rumah kontrakan itu. Karena ia merasa bahwa perbuatan itu baik dan tidak ada salahnya. Ketika ia sedang membersihkan debu-debu pada dinding rumah itu, didengarnya suara, "Hai orang yang menganggap remeh pada debu engkau, akan mengalami perhitungan amal yang sangat lama".
Imam Ahmad bin Hanbal pernah menggadaikan sebuah bejana tembaga kepada tukang sayur Makkah. Ketika hendak ditebusnya bejananya itu, si tukang sayur mengeluarkan dua buah bejana lalu ia berkata: "Ambillah salah satu, mana yang jadi milikmu". Imam Ahmad berkata, "Saya sendiri ragu, mana dari dua bejana itu yang menjadi milikku. Untuk itu ambil olehmu bejana dan uang tebusannya. Saya rela semua untukmu". Tukang sayur itu serta merta menunjukkan, mana bejana milik Imam Ahmad, lalu berkata: "Inilah milikmu". Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya aku hanya menguji kejujuranmu! Sudah, saya tidak akan membawanya lagi," sambil berjalan meninggalkan tukang sayur itu.
Diriwayatkan bahwasannya Ibnu al-Mubarak pulang pergi dari Marwan ke Syam untuk mengembalikan setangkai pena, yang belum sempat dikembalikan kepada pemiliknya.
Hasan al-Bashry pernah menanyakan kepada seorang putera sahabat Ali bin Abi Thalib, ketika itu sedang bersandar di Ka'bah sambil memberi pelajaran. Hasan al-Bashry bertanya: "Apakah yang membuat agama menjadi kuat?" Dijawabnya: "yang menguatkan agama adalah sifat wara'". "Apa yang merusak agama?" "yang merusak agama adalah tamak". Jawaban itu mengagumkan Hasan al-Basry, lalu ia berkata "Dengan sifat wara' yang ikhlas lebih baik dari seribu kali shalat dan puasa".
Itulah beberapa kisah yang menghiasi akhlak para sufy masa lampau. Sifat yang mengagumkan yang melekat dalam hidup mereka. Demikian juga sifat mulia para sahabat tabi'in dan tabi'it-tabi'in.
Kata wa-azimatun, menurut lughat, artinya cita-cita yang kuat. Maksudnya penuh kesungguhan dan sabar menghadapi bermacam-macam masalah hidup, akan tetapi kuat menghadapinya dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Demikian juga melatih diri dengan riyadlah yang dapat memperkuat ibadah dan melakukan ketaatan. Umpamanya riyadlah mengendalikan keinginan yang mubah, seperti puasa makan, minum, tidur, menahan lapar seperti puasa, sunnat, atau meninggalkan hal-hal yang kurang berguna bagi kemantapan dan konsentrasi jiwa kaum sufi.
Nabi SAW bersabda: "Cukurlah kiranya bagi manusia beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila ingin lebih dari itu, hendaklah ia membagi perutnya; sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk bernafas".
Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda: "Bukankah manusia itu tertelungkup dalam neraka, tidak lain karena buah omongan lisannya. Sedangkan usia manusia itu adalah modal pokok perdagangannya. Apabila disia-siakan dengan makhluk perbuatan yang tidak berguna, maka sungguh ia telah merusaknya dengan kesia-siaan".
Oleh karena itu mengamalkan ilmu thariqat sama dengan menghindari segala macam perbuatan mubah, seperti telah dicontohkan di atas. Itulah jalan suci akan mengantarkan manusia kepada ketaatan dan kebahagiaan

Amalan penyucian diri atau lebih dikenali dengan nama Tasawuf adalah sebahagian amalan yang dituntut oleh Islam. Ia berdasarkan sebuah hadis sahih Bukhari dan Muslim yang menceritakan kisah Jibril `alihissalam bertemu dengan baginda saw dan bertanya beberapa persoalan penting tentang agama. Antara ialah tentang apa itu iman, apa itu islam dan apa itu ihsan. Baginda menjelaskan bahawa iman itu ialah kamu beriman kepada Allah, MalaikatNya, Rasul-rasulNya, Kitab-kitabNya, Hari Akhirat dan dengan ketentuan baik dan buruk. Islam pula ialah kamu memberi kesaksian bahawa Tiada Tuhan yang mesti disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitillah sekiranya mampu. Ihsan pula ialah bahawa kamu beribadah/memperhambakan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya. Sekiranya kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihat kamu.

Iman berkaitan dengan ilmu aqidah iaitu kumpulan keyakinan di hati terhadap perkara-perkara ghaib. Ia melahirkan ilmu Tauhid atau Usuluddin. Islam pula berkaitan dengan pengamalan zahir seperti solat dan sebagainya. Ia melahirkan ilmu Fiqh atau dikenali juga sebagai ilmu syariat. Ihsan pula berkaitan dengan penyucian jiwa. Dari perbahasan Ihsan inilah lahirlah ilmu tentang penyucian jiwa yang lebih dikenali kemudiannya sebagai ilmu Tasauf. Dari sini lahir pula aliran-aliran Tasauf yang pelbagai yang dikenali sebagai Tarekat. Kepelbagaian ini berlaku kerana perbezaan fokus amalan dan perbezaan bentuk-bentuk zikir yang digunakan dalam amalan seharian. Sebahagian zikir ini dipetik daripada al-Qur’an dan hadis, manakala sebahagiannya adalah susunan tokoh-tokoh ulama yang menjadi perintis kepada kumpulan Tarekat tersebut.

Umat Islam wajib menyucikan diri dengan pelbagai amalan yang membawa kepada penyucian hati. Antara amalan yang dianjurkan untuk penyucian jiwa ialah zikir-zikir seharian yang banyak disebut dalam al-Qur’an dan Hadis. Untuk menyucikan diri atau “menjadi ahli sufi”-menurut istilah beberapa pihak-tidak memerlukan diri mengikuti mana-mana kumpulan Tarekat. Umat Islam boleh beramal dengan apa sahaja amalan yang sabit menurut al-Qur’an dan Hadis atau beramal dengan apa sahaja bentuk zikir yang diajar oleh Nabi saw atau yang disusun oleh ulama tanpa perlu menggabungkan diri kepada mana-mana kumpulan Tarekat tersebut.Yang penting ialah membekalkan diri dengan ilmu dengan sentiasa mengikuti majlis-majlis ilmu dan beramal dengan panduan guru-guru yang bertaqwa dan wara`.

Adapun, menggabungkan diri dengan kumpulan-kumpulan Thariqah ini adalah sesuatu yang baik karena ia membantu seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan panduan seorang guru mursyid/muqodam yang memimpin dan membimbing Thariqah-thariqah tersebut. Namun, perlu dipastikan kumpulan Tarekat tersebut tidak menyeleweng daripada aqidah yang benar dan syariat yang tepat. Ini berlaku kepada Apa yang segelintir kumpulan Tarekat yang wujud di alam Melayu. Justeru, rujukan perlu dibuat kepada pihak berkuasa agama untuk memastikan kumpulan Tarekat yang dikuti tidak menyeleweng.

1 komentar:

  1. TATONICWOOD STOVIOUS MADE CHILLI COOKING HOT SAUCE
    TATONICWOOD STOVIOUS MADE ion chrome vs titanium CHILLI COOKING HOT thunder titanium lights SAUCE. A great hot sauce made from crushed habanero peppers, it's made trekz titanium pairing with real bell peppers,  titanium symbol Rating: 5 nano titanium by babyliss pro · ‎1 review

    BalasHapus